Malam ini aku masih menangis...
Maaf kan aku,ku mohon jangan pinta aku untuk berhenti menangis karenamu!
Kau masih menjadi bagian terpenting di hidupku
Masih menjadi objek terpenting yang ku perbincangkan dengan Tuhan
Masih menjadi semoga yang tak berhenti ku harap menjadi nyata
Salah kah aku jika air mata ini masih terus menetes karena perpisahan pahit ini?
Ku rasa tidak,ini manusiawi,aku kehilangan yang ku rasa tlah menjadi bagian hidup ku
Lalu,apa kah kau seperti ku?
Apakah kau masih menyimpan ku,seperti aku menyimpan mu?
Ku rasa tidak,ku rasa kau telah berbahagia dengan hidup baru mu
Ah sungguh,aku tak peduli,yang ku tau tak ada yang tak mungkin jika aku terus meminta kau kepadaNya sang pemilik hatimu,bukan kah dahulu kita juga selalu percaya,tidak ada yang mampu mengalah kan kekuatan do'a,bukan?
Iyaaa,kita selalu percaya itu dulu
Bahkan jarak yang kita lalui,sempat dimenangkan oleh do'a yang dahulu selalu kita panjatkan bersama
Itu dulu loh..
Sekarang mungkin aku berdoa sendiri,yang ku tau aku sendiri
Walau diharapan ku,kau masih sama sepertiku,memanjatkan do'a yang dahulu kita rangkai bersama
Sungguh,malam ini terasa begitu berat
Sungguh aku merindukam mu
Lalu aku bisa apaa?
Lagi lagi,hanya bisa membawa nama mu dalam sujud panjang ku
Lagi lagi hanya bisa membawa namamu dalam do'a-do'a ku
Sungguh ini berat
Tapi aku selalu yakin,do'a akan selalu sampai sejauh apapun itu,dan do'a tidak akan pernah salah tujuan
Dan kamu...yang namanya tak pernah tertinggal di dalam do'a ku
Masih kah ada aku di hati mu?
Entahlah,sungguh hanya kau dan Dia yang tahu itu
Tapi aku takkan berhenti berharap
Takkan berhenti menyelipkan beberapa huruf nama indah itu
Tenang saja,kau tak perlu khawatir
Kau takkan ku buat gelisah karena kucintai sebeginini nya
Sebab aku mencintai mu dalam diam
Dalam do'a perantara cinta ku padamu
Kamu...baik baik lah ditempat baru mu
Tunggu do'a ku memenang kan kau kembali
Datang dan meminta ku pada ayah mu
Dan aku selalu menunggu itu
Menunggu do'a ku menjadi pemenangnya:')
-Anggi
15 Juli Medan-Sumatera Utara
Repost from:
Dakwah Islam's line post on 16 july, 01:17PM (Dengan beberapa penyesuaian)
Masihkah ada aku?
Posted by
Muhammad Ridwan
, Friday, 17 July 2015 at 22:59, in
Labels:
Sekapur Sirih
Sekapur Sirih...
Posted by
Muhammad Ridwan
, Thursday, 16 July 2015 at 04:27, in
Labels:
Sekapur Sirih
Jika kita terus sibuk mengejar dunia, maka memang tak akan ada habisnya.
Sibuk bekerja, sibuk dengan rutinitas yang tak kunjung tuntas.
Sibuk dengan aktivitas-aktivitas yang akan memberikan kita label “pantas”, pantas dalam hal material dan status sosial di dunia ini?
Memang benar Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk melupakan dunia, tapi apakah aktivitas kita tersebut menjadi suatu alasan kita untuk melupakan akhirat?
Disaat orang lain berlomba-lomba mempersiapkan bekal untuk akhirat, apakah kita akan berleha-leha dan tersesat di dalam jurang maksiat?
Allah memberikan kita mata, agar digunakan untuk melihat hal2 yang indah, digunakan untuk beribadah serta membaca Al-Quran, dan untuk melihat betapa besarnya nikmat yang telah ia berikan kepada kita
Namun kita malah menggunakannya untuk melihat hal2 yang tidak pantas, melihat hal2 yang haram, dan bahkan senantiasa nikmat melakukan maksiat dengannya.
Ia memberikan kita tangan, agar senantiasa kita gunakan untuk beramal soleh, dan membantu sesama
Namun kita malah menggukanannya untuk melakukan hal2 yang tidak diridhoinya
Ia memberikan kita kaki, agar sentantiasa dipergunakan untuk melangkah pergi ke masjid dan beribadah
Namun lagi2 kita malah menggunakannya untuk pergi ke tempat2 yang pada hakikatnya hanya akan menjauhkan kita dari surga-Nya.
Allah memberikan kita umur, agar kita senantiasa bertasbih, beramal, dan selalu bersyukur akan segala nikmat yang telah ia berikan
Tapi sudah berapa banyakkah nikmat-Nya yg kita syukuri dibandingkan dengan banyaknya nikmat-Nya yang telah kita lupakan?
Ketika kita mendapatkan kesenangan dan kemudahan rezeki, sering kali kita terlintas di pikiran kita bahwa Allah sedang ingat kepada kita.
Namun ketika kita mendapati musibah, cobaan dan ujian dari-Nya kita malah sering berfikir bahwa Allah sedang melupakan kita?
Bahkan terkadang sampai terbesit dalam hati rasa kesal karena lamanya kita sakit, karena lamanya kita menderita dan karena
musibah yang tak kunjung usai?
Tapi pernahkah kita membandingkan berapa lama waktu ketika sehat dengan lamanya ketika kita sakit?
Kemana saja kita ketika sehat? Apakah kita pantas jika terus mengeluh ketika sedang mendapat musibah?
Allah tidak meminta kita untuk menghitung berapa banyak nikmat yang telah ia berikan.
Allah tidak pernah meminta kita untuk membalas semua nikmat yang telah ia karuniakan kepada kita.
Tapi allah hanya memerintahkan kita untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya.
Maka dari itu, marilah kita senantiasa besyukur kepada-Nya.
Dan semoga seiring dengan bertambahnya umur kita ini, menjadikan pengingat untuk kita agar senantiasa bersyukur sebelum semua nikmat itu dicabut.
Menjadikan pengingat agar kita senantiasa merenung dan memikirkan kembali untuk apa kita lahir ke dunia ini?
Oleh karena itu, mudah-mudahan moment iedul fitri ini kita kembali menjadi manusia yang fitrah, yang diampuni dosanya dan manjadikan titik balik agar kita menjadi muslim yang senantiasa bersyukur dan selalu ingat untuk apa kita terlahir di dunia ini, aamiin….
Sibuk bekerja, sibuk dengan rutinitas yang tak kunjung tuntas.
Sibuk dengan aktivitas-aktivitas yang akan memberikan kita label “pantas”, pantas dalam hal material dan status sosial di dunia ini?
Memang benar Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk melupakan dunia, tapi apakah aktivitas kita tersebut menjadi suatu alasan kita untuk melupakan akhirat?
Disaat orang lain berlomba-lomba mempersiapkan bekal untuk akhirat, apakah kita akan berleha-leha dan tersesat di dalam jurang maksiat?
Allah memberikan kita mata, agar digunakan untuk melihat hal2 yang indah, digunakan untuk beribadah serta membaca Al-Quran, dan untuk melihat betapa besarnya nikmat yang telah ia berikan kepada kita
Namun kita malah menggunakannya untuk melihat hal2 yang tidak pantas, melihat hal2 yang haram, dan bahkan senantiasa nikmat melakukan maksiat dengannya.
Ia memberikan kita tangan, agar senantiasa kita gunakan untuk beramal soleh, dan membantu sesama
Namun kita malah menggukanannya untuk melakukan hal2 yang tidak diridhoinya
Ia memberikan kita kaki, agar sentantiasa dipergunakan untuk melangkah pergi ke masjid dan beribadah
Namun lagi2 kita malah menggunakannya untuk pergi ke tempat2 yang pada hakikatnya hanya akan menjauhkan kita dari surga-Nya.
Allah memberikan kita umur, agar kita senantiasa bertasbih, beramal, dan selalu bersyukur akan segala nikmat yang telah ia berikan
Tapi sudah berapa banyakkah nikmat-Nya yg kita syukuri dibandingkan dengan banyaknya nikmat-Nya yang telah kita lupakan?
Ketika kita mendapatkan kesenangan dan kemudahan rezeki, sering kali kita terlintas di pikiran kita bahwa Allah sedang ingat kepada kita.
Namun ketika kita mendapati musibah, cobaan dan ujian dari-Nya kita malah sering berfikir bahwa Allah sedang melupakan kita?
Bahkan terkadang sampai terbesit dalam hati rasa kesal karena lamanya kita sakit, karena lamanya kita menderita dan karena
musibah yang tak kunjung usai?
Tapi pernahkah kita membandingkan berapa lama waktu ketika sehat dengan lamanya ketika kita sakit?
Kemana saja kita ketika sehat? Apakah kita pantas jika terus mengeluh ketika sedang mendapat musibah?
fabiayyi ala irabbikuma tukadziban, maka nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan…? (Q.S. Ar-Rahman)
Allah tidak meminta kita untuk menghitung berapa banyak nikmat yang telah ia berikan.
Allah tidak pernah meminta kita untuk membalas semua nikmat yang telah ia karuniakan kepada kita.
Tapi allah hanya memerintahkan kita untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya.
Maka dari itu, marilah kita senantiasa besyukur kepada-Nya.
Dan semoga seiring dengan bertambahnya umur kita ini, menjadikan pengingat untuk kita agar senantiasa bersyukur sebelum semua nikmat itu dicabut.
Lain syakartum laazidannakum walain kafartum inna adzaabi lasyadid, “Barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.”(Q.S. Ibrahim : 7)
Menjadikan pengingat agar kita senantiasa merenung dan memikirkan kembali untuk apa kita lahir ke dunia ini?
Oleh karena itu, mudah-mudahan moment iedul fitri ini kita kembali menjadi manusia yang fitrah, yang diampuni dosanya dan manjadikan titik balik agar kita menjadi muslim yang senantiasa bersyukur dan selalu ingat untuk apa kita terlahir di dunia ini, aamiin….
Subscribe to:
Posts (Atom)