Showbiz Lyra
this site the web

Sekapur Sirih...

Jika kita terus sibuk mengejar dunia, maka memang tak akan ada habisnya.

Sibuk bekerja, sibuk dengan rutinitas yang tak kunjung tuntas.

Sibuk dengan aktivitas-aktivitas yang akan memberikan kita label “pantas”, pantas dalam hal material dan status sosial di dunia ini?

Memang benar Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk melupakan dunia, tapi apakah aktivitas kita tersebut menjadi suatu alasan kita untuk melupakan akhirat?

Disaat orang lain berlomba-lomba mempersiapkan bekal untuk akhirat, apakah kita akan berleha-leha dan tersesat di dalam jurang maksiat?

Allah memberikan kita mata, agar digunakan untuk melihat hal2 yang indah, digunakan untuk beribadah serta membaca Al-Quran, dan untuk melihat betapa besarnya nikmat yang telah ia berikan kepada kita

Namun kita malah menggunakannya untuk melihat hal2 yang tidak pantas, melihat hal2 yang haram, dan bahkan senantiasa nikmat melakukan maksiat dengannya.

Ia memberikan kita tangan, agar senantiasa kita gunakan untuk beramal soleh, dan membantu sesama

Namun kita malah menggukanannya untuk melakukan hal2 yang tidak diridhoinya

Ia memberikan kita kaki, agar sentantiasa dipergunakan untuk melangkah pergi ke masjid dan beribadah

Namun lagi2 kita malah menggunakannya untuk pergi ke tempat2 yang pada hakikatnya hanya akan menjauhkan kita dari surga-Nya.

Allah memberikan kita umur, agar kita senantiasa bertasbih, beramal, dan selalu bersyukur akan segala nikmat yang telah ia berikan

Tapi sudah berapa banyakkah nikmat-Nya yg kita syukuri dibandingkan dengan banyaknya nikmat-Nya yang telah kita lupakan?

Ketika kita mendapatkan kesenangan dan kemudahan rezeki, sering kali kita terlintas di pikiran kita bahwa Allah sedang ingat kepada kita.

Namun ketika kita mendapati musibah, cobaan dan ujian dari-Nya kita malah sering berfikir bahwa Allah sedang melupakan kita?

Bahkan terkadang sampai terbesit dalam hati rasa kesal karena lamanya kita sakit, karena lamanya kita menderita dan karena
musibah yang tak kunjung usai?

Tapi pernahkah kita membandingkan berapa lama waktu ketika sehat dengan lamanya ketika kita sakit?

Kemana saja kita ketika sehat? Apakah kita pantas jika terus mengeluh ketika sedang mendapat musibah?

fabiayyi ala irabbikuma tukadziban, maka nikmat tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan…? (Q.S. Ar-Rahman)

Allah tidak meminta kita untuk menghitung berapa banyak nikmat yang telah ia berikan.

Allah tidak pernah meminta kita untuk membalas semua nikmat yang telah ia karuniakan kepada kita.

Tapi allah hanya memerintahkan kita untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya.

Maka dari itu, marilah kita senantiasa besyukur kepada-Nya.

Dan semoga seiring dengan bertambahnya umur kita ini, menjadikan pengingat untuk kita agar senantiasa bersyukur sebelum semua nikmat itu dicabut.

Lain syakartum laazidannakum walain kafartum inna adzaabi lasyadid, “Barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.”(Q.S. Ibrahim : 7)

Menjadikan pengingat agar kita senantiasa merenung dan memikirkan kembali untuk apa kita lahir ke dunia ini?

Oleh karena itu, mudah-mudahan moment iedul fitri ini kita kembali menjadi manusia yang fitrah, yang diampuni dosanya dan manjadikan titik balik agar kita menjadi muslim yang senantiasa bersyukur dan selalu ingat untuk apa kita terlahir di dunia ini, aamiin….


0 comments:

Post a Comment

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies